The Tenth Commandment of Marriage Commandment 1 Marriages are made in heaven. But so are thunder and lightning. Commandment 2 If you want your wife to listen and pay strict attention to every word you say; talk in your sleep. Commandment 3 Marriage is grand--and divorce is at least hundred grand. Commandment 4 Married life is very frustrating. In the first year of marriage, the man speak and the woman listens. In the second year, the woman speak and the man listens. In the third year, they both speak and the neighbours listen. Commandment 5 When the man open the door of his car for his wife, you can be sure of one thing; either the car is new or his wife is. Commandment 6 Marriage is when a man and women become as one. the trouble starts when they try to dicide which one. Commandment 7 Before marriage, a man will lie awake all night thinking about something you say, after marriage, he will fall asleep before you finish. Commandment 8 Every man wants a wife who is beautiful, understanding, economical, and a good cook; but the law allows only one wife. Commandment 9 Marriage and love are purely matter of chemistry, that is why wives treat husbands like toxic waste. Commandment 10 A man is incomplete until he is married, after that, he is finished
| Bertengkar jangan asal sekedar meluapkan emosi, dengan suara keras menggelegar. Biar tak berdampak fatal, kuasailah seni bertengkar yang tetap diselimuti dengan kasih sayang.
Sebaik apa pun hubungan Anda dan pasangan, pertengkaran pasti akan datang. Yang penting adalah bagaimana Anda menghadapi dan menanganinya. Masalah kecil pun bisa menjadi prahara jika Anda salah menanganinya. Ada saatnya Anda harus bertengkar secara bijak, agar pertengkaran yang terjadi dapat mempererat hubungan Anda bukan malah meretakkannya.
Minta Jeda Waktu
Anda dapat belajar untuk mengontrol emosi jika emosi mulai terasa memuncak. Mintalah "time break" selama lima menit dan pergilah ke ruangan lain. Jika lima menit Anda merasa tidak cukup, bilang pada pasangan, lalu ambil waktu sampai Anda merasa lebih rileks. Siasat ini diperlukan untuk menghindari meledaknya emosi Anda yang dapat memperkeruh keadaan.
Di saat Anda bertengkar, jangan pernah menyerang pribadinya. Karena biasanya, pada saat bertengkar kita akan tergoda untuk menyakiti lawan dengan menyerang pribadinya. Misalnya, "Dasar kamu bodoh!" atau kata-kata lain yang lebih menyakitkan. Ini jelas akan memperparah keadaan. Sejelek-jeleknya pasangan Anda, pasti dia masih tetap ingin dihargai sebagai seorang laki-laki. Dan, Anda pun patut menjaga perasaannya.
Fokus Pada Pertengkaran
Ketika timbul konflik, ada baiknya Anda memfokuskan diri pada pokok masalah. Jangan menyeret dosa-dosa lama yang akan memperluas pertengkaran dan membuat masalah menjadi semakin keruh.
Hindari juga kata selalu. Kata selalu dan tidak pernah (selalu begini, tidak pernah begitu) tidak akan menghasilkan apa-apa dalam pertengkaran. Jika ia lupa melakukan sesuatu (walau sudah berulangkali) katakan bahwa Anda ingin melakukan hal itu sekarang juga dan tidak dengan kata-kata, "Kenapa kamu selalu harus diingatkan?"
Hindari juga kata, "Aku benci kamu." Apalagi itu diucapkan dengan intonasi yang seolah-olah Anda benar-benar membencinya. Lebih baik Anda katakan bahwa yang Anda benci adalah apa yang ia lakukan atau tidak lakukan.
Jaga Diri Untuk Tidak Mengucapakan Kata Cerai/Putus
Pertengkaran Anda dan pasangan bukan akhir dari segala-galanya. Jadi jangan pernah memancingnya dengan mengatakan, "Ya sudah, sebaiknya kita cerai/putus saja" atau kalimat-kalimat semacam itu. Sebaiknya Anda tidak terlalu mudah mengeluarkan kata-kata untuk mengakhiri hubungan.
Usahakan untuk tetap menjaga kesabaran, bertoleransi dan mencoba menempatkan diri pada posisinya. Jangan menyela jika Anda tidak ingin disela dan jangan pula berteriak jika Anda tidak ingin pasangan meneriaki Anda. Jika Anda menjaga stabilitas emosi, pasangan pun akan terpancing untuk melakukan hal yang sama.
Jangan pernah menutup pertengkaran dengan membahas pertengkaran yang baru saja terjadi. Dan jangan mengungkit siapa yang emosi terlebih dulu dan sebagainya, karena ini akan memicu pertengkaran baru.
Yang terakhir, mintalah maaf walaupun Anda merasa tidak bersalah. Meminta maaf duluan akan mendinginkan suasana. Tapi satu hal, mintalah maaf pada apa yang benar-benar Anda sesali dan hindari perkataan, "Aku minta maaf, tapi...."
Itulah seni bertengkar secara bijak. Memang agak sulit untuk menerapkan dalam kehidupan Anda sehari-hari, terutama jika Anda sedang terbakar emosi. Tapi yakinlah, Anda pasti bisa mulai belajar untuk memulainya. |  |
Jika Anda mulai dihadapkan pada kekurangan pasangan, salah satu yang akan muncul di kepala adalah suatu hal yang kurang menyenangkan. Tapi bukan tak mungkin kekurangan justru menjadi salah satu daya tarik dalam hubungan Anda.
Sudah selayaknya sebagai pasangan suami-istri yang terikat janji pernikahan berusaha untuk menerima kelebihan maupun kekurangan pasangan. Karena kedua hal tersebut merupakan satu paket yang sudah harus Anda terima ketika memutuskan untuk menikahi pasangan. Gampang-gampang susah jika kebetulan Anda mendapat pasangan yang sulit beradaptasi dengan kelemahan Anda, atau sebaliknya.
Sebenarnya, keikhlasan Anda menerima pasangan dengan segala kekurangannya dapat Anda pelajari ketika masih dalam tahap pendekatan maupun pacaran. Secara tak langsung, sedikit demi sedikit seharusnya pasangan mampu menunjukkan kekurangannya selain tentu saja menonjolkan kelebihannya. Sejauh mana Anda mampu menerimanya, kembali lagi dibutuhkan komunikasi dan kejujuran yang baik antara kedua belah pihak, dan satu lagi adalah komitmen untuk saling menerima.
Beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk berterus terang, antara lain:
1. Buatlah semacam curriculum vitae untuk diri Anda sendiri dengan mendeskripsikan diri Anda apa adanya, seobjektif mungkin. Garis bawahi kekurangan yang Anda rasa cukup sulit dikompromikan dengan pasangan. Tak perlu membuka kekurangan Anda di hadapan pasangan. Usia perkawinan tak menjamin pasangan sudah mengenal Anda luar-dalam.
2. Keinginan Anda terhadap pernikahan. Misalnya, katakan terus terang bahwa Anda tidak ingin pernikahan ini membuat aktivitas Anda terhenti, bahkan sebaliknya, Anda ingin didukung. Atau, katakan Anda bersedia menjadi istri di rumah dan melepaskan semua aktivitas. Apa pun keinginan Anda, katakanlah secara terns terang pada pasangan. Sebaiknya hal ini dilakukan sebelum pernikahan terjadi, namun jika telah terlanjur, keterusterangan menjadi kunci utamanya.
3. Diskusikan keberatan Anda terhadap kekurangannya. Misalnya pasangan sering terlambat dalam melakukan apa pun, cobalah diskusikan dan cari solusi bersamanya.
4. Ikhlas dan cobalah menerima kekurangannya. Anda tak pernah tahu, kan, jika ternyata pasangan sebenarnya sulit menerima kekurangan Anda, tapi ia mau berusaha mencoba mengalah dan berdamai dengan kekurangan Anda.
5. Jangan pendam kekesalan Anda jika ada masalah dengan kekurangan pasangan. Lebih baik keluarkan, tanpa emosi, ketimbang Anda harus memendamnya. Hal ini justru dapat membuat Anda menjadi antipati, yang bisa berujung pada konflik besar dengan pasangan.
Jika cara-cara tersebut telah Anda coba terapkan, resep jitu terakhir tak lain adalah ikhlas menerima pasangan apa adanya. Seburuk apa pun pasangan, dialah orang yang Anda pilih untuk menjadi pendamping hidup, kepala keluarga bahkan ayah dari anak-anak Anda. Sebaliknya cobalah berpikir menjadi pasangan dan bagaimana ia menghadapi Anda dengan segala kelebihan dan kekurangannya, pasti sama sulitnya. Ingat, bagaimanapun manusia tak ada yang sempurna.
 | Running | Aug 5, '07 9:58 PM for everyone |
Run, running all the time running to the future with you right by my side Me, I'm the one you chose out of all the people you wanted me the most And I'm so sorry that I' ve fallen help me up, lets keep on running Don't let me out of love Running, running as fast as we can do you think we"ll make it ? We're running keep holding my hand so we don't get separated Be, be the one i need be the one i trust most don't stop inspiring me Sometimes it's hard to keep on running we work so much to keep it going Don't make me want to give up. Running, running as fast as we can i really hope we make it We're running keep holding my hand so we don't get separated To the future....
| |